Guru adalah Penerus Perjuangan Para Nabi

Guru adalah Penerus Perjuangan Para Nabi

Semua pasti sepakat contoh yang paling baik ada pada diri Nabi Muhammad SAW dan semua perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bisa dilakukan oleh umatnya. Tetapi, tidak semuanya perbuatan nabi Muhammad SAW bisa kita lakukan. Begitulah kita seorang guru mesti mencontoh Nabi Muhammad SAW dan berbahagialah kita sebagai guru. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا

Sesungguhnya aku hanya diutus sebagai seorang guru (H.R. Ad Darimi, Baihaqi)

Dari sini Rasulullah SAW ingin menegaskan betapa mulianya seorang guru, seorang pendidik yang dimana tidaklah Rasulullah SAW diutus hanya untuk sebagai seorang guru. Sehingga dapat dipahami bahwa guru adalah penerus perjuangan para nabi.

Sebab guru lah yang membasmi segala kebodohan di muka bumi ini, sehingga dunia ini menjadi berwarna karena dipenuhi dengan ilmu pengetahuan. Bahkan Imam Nawawi mengatakan :

عُقُوْقُ الوَالِدَيْنِ تَمْحُوْهُ التَوْبَةَ وَعُقُوْقُ الأُسْتَاذِيْنَ لَا يَمْحُوْهُ شَيْئُ البَتَةِ

"Dosa durhaka kepada kedua orang tua bisa di hapus dengan taubat kepada Allah, sedangkan dosa durhaka kepada guru tidak bisa di hapus oleh sesuatu apapun (kecuali ridha dari guru tersebut)."

Meski begitu, kita sebagai guru jangan terlena terhadap kemuliaan tugas yang kita emban. Sebab, guru dalam mendidik memiliki adab yang mesti di jaga dihadapan para muridnya. Di antara dari sekian banyak adab yang harus dimiliki guru setidaknya 2 hal yang sering luput di antara kita :

1.     1. Berlemah lembut terhadap murid

Dalam kitab Tadzkirah As Sami’ wal mutakallim fi adabil Alim hal 65 karangan Al Imam Al Qadhi Badruddin Muhammad bin Ibrahim Al Kinani As Syafii dijelaskan bahwa seorang guru janganlah mengangkat suara melebihi semestinya dan juga jangan terlalu pelan. Sehingga tidak sempurnanya manfaat yang disampaikan oleh seorang guru. Karena, murid tidak mendengar suara guru dengan jelas. Hal ini sesuai dengan hadits yang Diriwayatkan oleh Imam Khotib dalam kitab jami’ dari Nabi SAW Bersabda :

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الصَوْتَ الخَفِيْضَ وَيُبْغِضُ الصَوْتَ الرَفِيْعَ

Sesungguhnya Allah menyukai suara yang lemah lembut dan membenci suara yang keras

Kalau suara yang terlalu keras saja allah benci, bagaimana dengan seorang guru yang berkata kurang pantas kepada muridnya seperti menjudge, menjelekkannya di hadapannya dan hadapan murid yang lain ? jelas allah lebih benci.

Terkadang anak-anak memang mood belajarnya berbeda-beda. Terkadang mereka dalam belajar di kelas masih bercanda dulu, atau iseng terhadap temannya. Lantas apakah guru tidak boleh menegurnya ? jelas boleh tetapi dengan teguran yang baik bukan dengan membentaknya.

Sedikit kisah dahulu sayyidina Husain sedang bermain-main dengan seekor anjing namun hal itu tidak langsung diomelin oleh nabi bahkan nabi SAW membiarkan dan berkata itu adalah hiburan anak-anak biarkan mereka menyempurnakan dahulu kesenangannya. Tetapi pada saatnya nanti, nabi akan memberitahukan kepada sayyidina Husain bahwa anjing itu memiliki Najis mughallazah dsb.

Di lain cerita nabi Muhammad SAW pernah berjalan dengan anak-anak kecil yang menunggangi keledainya nabi dan nabi yang membawa tali ikatan hewan tersebut. Sambil berjalan nabi berkata :

Wahai anak-anak, aku ajarkan kepada kalian beberapa kalimat : jagalah allah maka allah akan menjagamu, ketahuilah seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka tidak akan terjadi kecuali sesuatu yang telah ditetapkan allah untukmu, dan jikalau seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakanmu maka tidak akan terjadi kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. (itu semua disebut) Terangkatnya pena dan telah keringnya catatan (qadha dan takdir)[1]

Di sisi lain ulama menjabarkan dari beberapa kisah dan sabda Nabi Muhammad SAW waktu yang paling baik dalam menasehati seorang anak dalam 5 waktu :

1.     Ketika mereka bermain dan kita ikut bermain dengan mereka

2.     Ketika makan Bersama mereka

3.     Ketika hendak tidur

4.     Ketika mereka sendirian

5.     Ketika seorang anak mendapatkan kesulitan (seperti habis nangis atau sakit)

Itulah akhlak nabi dan cara mendidik nabi yang mesti kita pelajari.

2.     2. Jagalah jarak terhadap murid lawan jenis

Dari kisah yang saya baca Rasulullah SAW seorang yang sangat pemalu, karena sangat pemalunya itu. Beliau tidak pernah bermain dengan anak kecil perempuan kecuali hanya sebatasnya saja. Maka kita semestinya jadi guru harus seperti itu menjaga Marwah janganlah berlebihan dalam berinteraksi terhadap murid kita yang lawan jenis. Hal ini untuk menjaga naiknya syahwat kita.

Ketahuilah wahai guru-guru sekalian, setan bisa masuk menggoda kita dari hal-hal kecil yang tidak kita sadari. Bisa jadi berawal dari kita memegang pipi murid Perempuan kita, lalu setan masuk menggoda kita sehingga kita memiliki Hasrat untuk memegang yang tidak semestinya kita pegang naudzubillah.

Lihatlah nabi Muhammad SAW sangat menjaga dirinya terhadap anak kecil  Perempuan. Kepada anak kecil Perempuan saja beliau jaga, apalagi terhadap Wanita yang sudah baligh. Pastilah beliau lebih menjaganya. Maka bohonglah jika Nabi Muhammad SAW dikatakan pedofil disebabkan dirinya menikahi Sayyidah Aisyah. Karena Sayyidah Aisyah di waktu itu hanya sekedar dinikahkan saja tetapi untuk menjadi seorang istri yang melayani suaminya, Rasulullah menunggunya sampai umurnya cukup. Sehingga  Sayyidah Aisyah tetap mendapatkan waktu kanak-kanaknya.



[1] Kisah ini diambil dalam kitab Atfalul Muslim Kayfa Rabbahumun Nabi, hal 64-65, karya Syeikh Jamal Abdur Rahman

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Setelah Shalat Fardhu